banner-ceritaku

Sejarah dan Makna Baju Koko

Ceritaku – Sejarah dan Makna Baju Koko. Masyarakat Indonesia memiliki tradisi mengenakan baju koko saat merayakan Lebaran. Selain menjadi pilihan untuk hari raya, baju koko juga sering dikenakan oleh pria Muslim saat shalat maupun menghadiri acara keagamaan. Meskipun secara umum diidentikkan dengan baju Muslim, ternyata baju koko memiliki asal-usul yang menarik dan berasal dari China. Mari kita simak sejarah dan makna baju koko.

Sejarah dan Makna Baju Koko

Asal Usul Baju Koko

Menurut Glenn Wijaya, Pembina di Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI) Provinsi DKI Jakarta, baju koko berasal dari baju thui khim, pakaian sehari-hari yang dikenakan oleh warga Tionghoa. “Baju koko itu berasal dari baju thui khim, dalam bahasa Hokkien, atau kalau dalam bahasa Mandarin harusnya disebut dui jin shan,” ujarnya.

Warga Tionghoa pertama kali datang ke Indonesia pada awal abad ke-5 Masehi, sekitar tahun 414. Ketika warga Tionghoa melakukan perjalanan ke India, mereka terdampar di Jawa dan mulai berdagang. Hingga awal abad ke-20, warga laki-laki Tionghoa yang tinggal di Indonesia mengenakan busana thui khim, yang dipadukan dengan celana panjang semata kaki untuk kegiatan sehari-hari. Lambat laun, baju thui khim juga dipakai oleh warga Indonesia karena sering berinteraksi dengan warga Tionghoa.

Baju Tradisional Thui Kim

Namun, seiring waktu, warga Tionghoa mulai meninggalkan model baju thui khim setelah mendapat persamaan derajat dengan orang Eropa. Setelah peristiwa tersebut, mereka lebih suka memakai baju modern ala barat. Sejak berdirinya Perhimpunan Tionghoa di Hindia Belanda pada tahun 1911, baju thui khim mulai ditinggalkan dan para laki-laki Tionghoa diperbolehkan menggunakan pakaian Belanda.

Makna Nama “Baju Koko”

Nama “baju koko” muncul karena pemakainya terdahulu adalah engko-engko Tionghoa. Secara perlahan, istilah ini berubah menjadi “baju koko” dalam bahasa Indonesia. “Nama baju koko karena banyak yang memakai engkong-engkong Tionghoa zaman dulu,” tutur Glenn. Diduga, awal mula istilah ini muncul karena warga Tionghoa yang mengenakan baju thui khim tersebut dikenal sebagai engko-engko. Dalam bahasa Indonesia, panggilan ini kemudian berkembang menjadi “koko,” sehingga pakaian yang dikenakan disebut baju koko.

Kenapa Baju Koko Identik dengan Pakaian Muslim?

Glenn menjelaskan bahwa baju Muslim awalnya menyerupai model baju Surjan, pakaian tradisional Jawa. Nama “Surjan” berasal dari dua suku kata, yaitu “su” dan “ja,” yang artinya “nglungsur wonten jaja” atau “meluncur melalui dada.” Oleh karena itu, baju Surjan memiliki panjang yang sama di bagian depan dan belakang. Ketika etnis Tionghoa memasuki Indonesia, baju Surjan mendapatkan pengaruh dari baju thui khim yang dipakai oleh warga Tionghoa.

“Kenapa baju koko identik dengan pakaian Muslim? Sebab pertama, modelnya pas, menutup aurat, sopan, dan bahannya longgar serta nyaman. Jadi, sejak dulu baju koko cocok untuk iklim tropis seperti di Indonesia,” paparnya.

Baju Changshan dan Baju Koko

Saat ini, baju yang kerahnya mirip dengan baju koko adalah baju Changshan. Baju ini sering dipakai untuk acara Sangjit, yang merupakan tradisi pernikahan Tionghoa. Meskipun memiliki kesamaan dengan baju koko, baju Changshan memiliki ciri khas yang berbeda.

Dengan sejarah yang kaya dan makna yang menyatu dengan budaya Indonesia, baju koko terus menjadi bagian penting dalam perpaduan tradisi dan gaya hidup modern. Semoga informasi ini membantu Anda lebih memahami asal-usul dan pentingnya baju koko dalam konteks budaya kita.

Kesimpulan

Dalam rangka merayakan Lebaran atau menghadiri acara keagamaan, baju koko tetap menjadi pilihan yang nyaman, sopan, dan sesuai dengan iklim tropis di Indonesia. Mari kita terus menghargai dan memperkaya warisan budaya kita melalui pakaian tradisional yang memiliki cerita dan makna yang mendalam.

Posting Komentar